Kuliah MKB USU

27 09 2008





13 09 2008

rapid-survei-survei-cepat





Kasus Etika Kedokteran

13 09 2008

Bertanya dan Etika Kedokteran (1)

Juni 4, 2007 oleh goldfriend

Disini banyak pertanyaan yang tidak saya jawab. Selain itu salah satu cita-cita masa kecil saya untuk menjadi dokter tidak terwujud….

Dari dulu saya tertarik dengan etika kedokteran. Lebih tepatnya lagi dengan bioetika. Hal ini karena teman saya dulu pernah mengajukan semacam “logika” dalam memandang suatu masalah dalam etika kedokteran dan bioetika.

“Logika” yang diajukan teman saya itu seperti ini :

Membunuh manusia adalah perbuatan yang bertentangan dan melanggar nilai-nilai moral
Setiap embryo (janin) juga adalah manusia
Wanita yang menggugurkan kandungan berarti membunuh janinnya
Oleh karena itu wanita itu membunuh manusia
Oleh karena itu wanita itu melakukan perbuatan yang melanggar nilai-nilai moral

Lama saya merenung, apakah sesederhana itu kita menghubungkan moralitas, pembunuhan dan pengguguran kandungan ? Mungkin pertanyaan lanjutannya adalah apakah pengguguran kandungan selalu berhubungan dengan moralitas ? Apakah kita tidak bisa memilah-milah lagi pengguguran kandungan sebagai suatu kasus yang juga harus dipandang latar belakangnya ?

Saya merasa bahwa etika kedokteran dan bioetika adalah hal yang mempunyai banyak persoalan didalamnya. Semuanya berhubungan dengan manusia dan juga dengan nilai dan norma yang dianut oleh manusia. Ditambah lagi dengan aspek teknologi yang terlibat di dalamnya, dan semuanya itu bisa menyumbangkan sesuatu bagi manusia untuk playing god.

Beberapa masalah dalam bioetika yang akan saya bahas secara singkat antara lain :

Eutanasia

Salah satu kasus yang pernah saya baca tentang eutanasia adalah kasus Karen Ann Quinlan. Secara singkat, Karen mengalami kondisi vegetatif yang persisten (bahasa mudahnya : koma) selama beberapa bulan tanpa mengalami kemajuan yang berarti. Hampir semua alat penunjuk kehidupan (EEG, pernapasan spontan, pupil mata, reaksi terhadap rasa sakit, dll) menunjukkan bahwa dirinya sudah berada pada suatu titik yang tidak dapat balik (point of no return). Tetapi Karen masih “bertahan hidup” dengan alat-alat bantu kehidupan.

Dan disitulah perdebatan soal moralitas, teknologi kedokteran, hak-hak asasi manusia, dan lain-lain berlangsung. Pengadilan akhirnya memutuskan untuk mengabulkan permintaan keluarga Karen untuk melepaskan semua alat-alat penunjang kehidupan dan mengabulkan “hak Karen untuk mati” dengan tenang.

Pertanyaan berikutnya masih saja menimbulkan perdebatan, adakah HAK untuk MATI ? Hak untuk hidup, saya rasa, semua orang mengakuinya, tetapi apakah demikian dengan hak untuk mati ?

Ada beberapa nilai-nilai yang dianut oleh kalangan kedokteran, tetapi saya ambil saja 2 diantaranya;

1. pasien mempunyai hak untuk menolak/memilih suatu treatment (voluntas aegroti suprema lex); dan
2. do no harm (primum non nocere).

Kedua nilai itu bisa saja menimbulkan dilema, bukan saja bagi kalangan medis tapi juga bagi pasien, keluarga dan masyarakat umum.

Apakah hak pasien untuk menolak/memilih suatu treatment tertentu dapat diartikan sebagai hak pasien untuk mati ? Jikalau pasien tersebut berada pada suatu kondisi yang tidak mungkin disembuhkan lagi (AIDS, kanker stadium akhir, penyakit yang belum ditemukan obatnya, dll), apakah dia (pasien) mempunyai hak untuk menolak diobati atau dengan bahasa lain : meminta supaya dirinya mati saja agar penderitaannya berkurang ? Juga dengan penderitaan keluarga ?

Dan jika memang diartikan demikian, bagaimana dengan nilai ke-2 yang dianut yaitu primum non-nocere ? Do no harm, dapat diartikan bahwa kalangan medis dilarang untuk menimbulkan penderitaan terhadap pasien dalam memberikan treatment. Apakah dengan tetap mengobati pasien-pasien yang dalam kondisi tidak mungkin sembuh berarti secara tidak langsung kalangan medis telah memperpanjang penderitaan pasien ? Juga dengan penderitaan keluarga pasien.

Semuanya itu (hubungan pasien-dokter) juga berhubungan dengan nilai-nilai yang dipegang oleh masyarakat serta kemajuan teknologi. Teknologi kedokteran yang maju dewasa ini dapat membuat seseorang bisa “memperpanjang” hidupnya. Tapi setahu saya, teknologi kedokteran belum bisa untuk mengembalikan suatu kondisi pasien yang irreversible seperti kasus Karen diatas.

Dan pertanyaan-pertanyaan itu masih terus berlanjut….

Mati dan Kriteria Mati

Menarik melihat perkembangan definisi mati sejak jaman dahulu kala sampai saat ini. Sangat beragam, mulai dari berhentinya nafas, terhentinya detak jantung dan paru-paru, berhentinya aliran darah, sampai pada kriteria mati otak (brain death) serta mati batang otak (brain stem death).

Lagi-lagi kasus Karen Ann Quinlan diatas dapat dijadikan contoh untuk menentukan apakah seseorang sudah dapat dikatakan mati atau masih hidup. Dalam kasus Karen, kondisi persistent vegetatif state (PVS) dilegalkan oleh pengadilan dengan mengatakan bahwa kondisi tersebut sudah memenuhi kriteria mati. Hal ini dikarenakan kondisi PVS adalah suatu kondisi yang tidak dapat kembali lagi seperti sedia kala (irreversible coma).

Salah satu hasil penelitian yang pernah saya baca tentang kondisi irreversible coma dalam menentukan kriteria mati adalah keputusan yang dibuat oleh Harvard Medical School pada tahun 1968 (Harvard Report on Irreversible Coma, 1968), yang intinya berisi hal-hal sebagai berikut dalam menentukan kriteria mati otak (brain death) :

  • Pasien tidak bereaksi lagi (unreceptive and unresponsive) terhadap stimulus, termasuk stimulus yang menyakitkan.
  • Tidak ada tanda-tanda pernapasan spontan dalam jangka waktu 1 jam (cat : kriteria waktu ini berbeda-beda tiap negara)
  • Tidak ada refleks (vestibulo-okular, refleks kornea, refleks terhadap cahaya, dll)
  • EEG-nya datar

Di Indonesia, PB Ikatan Dokter Indonesia pernah mengeluarkan keputusan yang berhubungan dengan masalah ini (SK-PB IDI No. 336/PB/A.4/88 mengenai “Pernyataan Dokter Indonesia tentang Mati), yang sebelumnya dikeluarkan juga SK-PB IDI No. 319/PB/4/88 mengenai Pernyataan Dokter Indonesia tentang Informed Consent. Pada intinya (sebagai ringkasan), kriteria mati menurut IDI adalah sebagai berikut :

  • meyakini adanya prakondisi tertentu yaitu pasien dalam keadaan koma, nafas berhenti, tidak responsif, dibantu ventilator; ada tanda-tanda telah terjadi kerusakan otak struktural yang tidak dapat diperbaiki lagi
  • meyakini bahwa tidak ada penyebab koma dengan berhentinya napas yang reversible, misalnya intoksikasi obat, hypotermia, dan gangguan metabolik endokrin.
  • meyakini bahwa refleks-refleks batang otak telah hilang secara permanen (refleks terhadap cahaya, refleks kornea, refleks vestibulo-okular, refleks muntah, refleks terhadap rangsangan yang cukup kuat di tubuh).

Sampai disini saya dapat melihat bahwa kriteria mati yang diterima saat ini adalah kriteria mati batang otak (brain-stem death). Hal ini juga mengingat bahwa pusat-pusat pernapasan dan jantung terletak di batang otak dan bukan di otak besar.

Tapi kasus Karen Ann Quinlan diatas bisa menjadi pertanda bahwa suatu kondisi irreversible coma dengan cukup syarat ditetapkan sebagai mati batang otak ternyata juga mempunyai perkecualian. Karen Ann Quinlan masih bisa bernapas dan menunjukkan tanda-tanda kehidupan (dalam kondisi koma) walaupun semua alat bantu kehidupan telah dilepas, dan Karen meninggal karena menderita pneumonia pada tahun 1985 (alat bantu dilepas tahun 1976).

Cerita tentang mati dan kriteria mati menjadi menarik karena, sekali lagi, hal itu sangat bergantung pada teknologi kedokteran. Disini, konsep keajaiban, moralitas, dan nyawa menjadi sesuatu yang tidak lagi diperhitungkan, padahal konsep-konsep itu dimiliki oleh masyarakat. Konsep keajaiban (miracle) misalnya, umat beragama pada umumnya percaya akan hal-hal yang ajaib yang bisa terjadi pada diri manusia.

Konsep nyawa juga menjadi relevan disini. Sampai sekarang penentuan mati dan kriteria mati oleh kalangan kedokteran (dibantu dengan teknologi) masih belum juga merumuskan dengan tepat apa itu nyawa. Nyawa manusia (yang juga dipercaya ada oleh masyarakat) menjadi sesuatu yang abstrak dalam penentuan mati. Apakah nyawa terlepas dari tubuh manusia (jadi ingat film 21 grams ) ketika seorang dinyatakan mati batang otak ? Apakah nyawa seperti “hembusan nafas terakhir” seperti yang sering ditonton di film-film ? Ataukah dengan kriteria itu kita bisa menyimpulkan bahwa nyawa manusia “tersimpan” di batang otak sehingga dengan terlepasnya nyawa maka batang otak juga dinyatakan mati ?

Perkembangan teknologi dan dinamika nilai dan norma di masyarakat bisa saja membuat kriteria mati yang ada saat ini menjadi berubah dikemudian hari. Dan dari situ kita bisa mempunyai banyak pertanyaan lain tentang hal itu.

******************

Saya bukan seorang dokter, tetapi cukup sering membaca hal-hal yang berhubungan dengan dunia kedokteran, khususnya yang menyangkut etika kedokteran dan bioetika.

Tulisan ini juga sekaligus meminta pendapat dari teman-teman blogger yang berlatar belakang kedokteran (Cakmoki, Pak Dani Iswara, Pak Dekock, Bu Evy, dokteranak, rumahkanker, Rizma, dan blogger lain yang tidak dapat disebutkan satu persatu.

Tulisan diatas dapat saya koreksi jika terdapat kesalahan dalam menginterpretasikan suatu istilah (karena di dunia kedokteran banyak istilah aneh-aneh) Juga jika ada data-data terbaru yang tidak saya ketahui. Tulisan ini masih bersambung di edisi ke-2 dengan pertanyaan-pertanyaan seputar etika kedokteran dan bioetika seperti pengguguran kandungan, pembuahan in-vitro, surrogate mother (surrogacy), dan transplantasi organ.

bersambung….

Ditulis dalam Literature, Personal | yang berkaitan Personal, Philosophy, Spirituality | 9 Tanggapan

9 Tanggapan ke “Bertanya dan Etika Kedokteran (1)”

  1. di/pada Juni 4, 2007 pada 11:30 pm1 PressPosts / User / axevictim666 / Submitted

http://pressposts.com/Personal/Bertanya-dan-Etika-Kedokteran-1/

Submited post on PressPosts.com – “Bertanya dan Etika Kedokteran (1)”


  1. di/pada Juni 5, 2007 pada 6:07 pm2 cakmoki

Berat…berat. Posting ini jauh lebih medis daripada tulisan saya, hehehe.
Ada belasan pertanyaan yang dapat dijadikan posting atau bahkan buku untuk setiap pertanyaan.

Definisi mati berubah seiring dg dinamika kemajuan ilmu dan teknologi kedokteran. Perbedaan parameter selalu ada, contohnya kasus Karen yang melibatkan pengadilan. Pada kasus tersebut, “mati” masih memicu perdebatan mengingat yg bersangkutan dapat bernafas setelah pelepasan alat bantu.
Hingga kini, di negeri kita masih menggunakan kriteria IDI (secara garis besar) dalam menentukan “:mati”. Di sisi lain perangkat hukum kedokteran kita masih sangat minim. Termasuk rancangan UU aborsi yang memicu kontroversi. Baru mendengar aborsi, banyak pihak sudah demo sebelum megetahui apa isinya.

Maaf, saya belum bisa komentar banyak mengingat luasnya pembahasan.
Dalam kenyataan sehari-hari, kebanyakan kematian tidak ditentukan secara medis, melainkan ditentukan secara sederhana oleh masyarakat setempat. Mungkin seperti di film, raba denyut nadi leher, melihat ada tidaknya napas, reaksi terhadap suara dan guncangan (mewakili reflek).
Itu saja… tak lebih.
Apakah memilih (atau menuju) kematian termasuk hak, sayapun tidak bisa menjawab. Saya rasa perlu pemilahan alasan. Sebagai contoh, seorang pasien yg tidak mau (menolak) dirawat, misalnya perlu transfusi atau tindakan medis yg bertujuan life saving karena tiadanya biaya atau tidak mengerti, mungkin bukan termasuk hak.
Wuih, masih banyak variabel. Namun saya sependapat, hal semacam ini sering-sering dibahas sebagai bahan kajian bagi para ahli.


  1. di/pada Juni 6, 2007 pada 3:49 pm3 Ehm….!!! « f e r t o b

[…] 6th, 2007 by fertobhades Hari ini saya baru membuka kembali blog ini setelah postingan terakhir Bertanya dan Etika Kedokteran (1), dan mendapatkan kabar adanya trackback dari blog Pak Shodiq bahwa tulisan saya di blog ini yang […]


  1. di/pada Juni 6, 2007 pada 8:52 pm4 deking

tetapi apakah demikian dengan hak untuk mati ?

Yang lebih membuat saya bingung adalah penuntutan akan hak mati tsb tidak diajukan oleh si pemegang hak, melainkan oleh orang lain.
Mungkn benar (dan sangat jelas) kalau hal tsb dikarenakan sang pemegang hak tidak mampu menuntut haknya.
Tetapi kalau begitu kita hanya menyoroti KETIDAKMAMPUAN pemegang hak dalam menuntut hak mati dan sepertinya kita lupa akan adanya kemungkinan KETIDAKMAUAN sang pemilik hak untuk menuntut pemenuhan memenuhi haknya tsb


  1. di/pada Juni 7, 2007 pada 1:01 pm5 Ma!!!

Ribet itu ya,,

kata dosen Ma susah banget nempatin eutanasia mana yang bisa disetujui dan yang ngga,, -jadi bahan ujian kemaren nih-

kriteria mati?? jadi inget film flat liners deh,,

yang pasti di Palembang,, -di RSMH- ga boleh banget deh kayanya,, terminasi kelahiran aja biarpun udah ada indikasinya masi didebat lama banget,,

emang pendapat beda beda banget ya kalo masalah idup-mati ini,,


  1. di/pada Juni 8, 2007 pada 4:29 pm6 fertobhades

@ cakmoki :

Iya pak, waktu saya pertama kali melihat kasus-kasus etika dalam dunia kedokteran, saya sempat kaget karena amat-sangat luas pembahasannya. Memang di negara kita dimana teknologi kedokteran belum semaju di negara-negara lain, pertanyaan2 itu terasa kurang relevan, tapi tetap saja itu menjadi sebuah pertanyaan ketika kita sudah sampai pada tahap itu.

Yang saya pertanyakan dari hak untuk mati diatas adalah Apakah ada suatu Hak Asasi bagi seseorang untuk Mati ? Sama seperti hak asasi manusia untuk hidup.

hehehehe… kalau tulisannya jauh lebih medis dari tulisan cakmoki, emang benar juga ya ? itu mungkin karena saya nggak terlalu mengerti menyajikannya dalam bentuk yang “gaul punya” seperti tulisan cakmoki. maklum, bukan orang kedokteran

@ deking :

Pada kasus-kasus kanker yang sudah tidak tertolong lagi, kadang permintaan untuk mati diajukan oleh si pasien sendiri, dengan alasan karena sudah tidak mungkin tertolong (pertimbangan psikologis) lagi atau meringankan beban keluarga (secara sosial dan ekonomi).

masalahnya memang selain pertimbangan kedokteran juga pertimbangan psikologis, sosial, dan ekonomi. semuanya membaur menjadi satu.

Tetapi yang saya tanyakan adalah Apakah ada Hak untuk Mati ? sama seperti kita mengakui hak untuk hidup (hak asasi). Hak untuk hidup berlaku universal dan secara umum tidak mempunyai batasan (kecuali dlm kasus kriminal), tapi apakah demikian juga dengan hak untuk mati ?

@ Rizma :

Iya Ma. eutanasia memang masih jadi perdebatan etis sampai sekarang, bukan hanya di Indonesia tapi juga di luar yang lebih liberal.

kalau terminasi kelahiran karena pertimbangan medis pada umumnya dilegalkan, asalkan dengan pertimbangan yang profesional.


  1. di/pada Juni 12, 2007 pada 3:55 pm7 Dani Iswara

maap blm bs jwb..save page dl..


  1. di/pada Juni 12, 2007 pada 4:56 pm8 Dani Iswara

apakah ada hak utk mati?

memang tdk akan ada habisnya..

mnrt saya ada, tp hanya pd fase/’kontrak’ tertentu..
jika segar bugar lalu menuntut hak mati saya analogikan spt tdk mjd korban kecelakaan tp minta tanggungan asuransi

jika mjd pengidap mis. HIV/AIDS fase awal lalu minta hak mati, bertentangan dg prinsip tdk menyakiti..

jika mjd pengidap mis. HIV/AIDS (menular), TB (menular), kanker, dll, lalu mrs ‘punya hak’ menolak pengobatan, maka kepentingan publik utk memperoleh kesehatan (terhindar dr peny menular) diutamakan, atau kepentingan ilmiah mis. trial pengobatan dpt digunakan utk menolak ‘hak’ tsb.. (sekali lg mnrt saya pribadi..)
biaya / mslh ekonomi ditanggung negara / pihak terkait, dll

jika scr psikologis mrs punya ‘hak mati’ (sakit / tdk sakit), tugasnya psikolog, psikiatris, ahli agama ya..??

jika sakit parah apalg fase akhir, tdk mampu diobati & mengobati (krn blm ada obat, biaya [walau masih bs diusahakan], keterbatasan alat medis, nyeri, kualitas hidup keluarga yg lain, dll), hak mati scr pasif (walaupun mungkin penderita blm mau menggunakan ‘haknya’.. ) mnrt saya sdh berjln otomatis..

jika pokoknya™ saya mau mati aja..ini yg susah..


  1. di/pada Juli 19, 2008 pada 5:31 am9 z ulya

mohon dijelaskan mengenai etika transplantasi organ dan hal-hal yang terkait, terimakasih.


Trackback URI | Komentar RSS

Tinggalkan Balasan

Top of Form

Nama (wajib)

Surat (tidak akan dipublikasikan) (wajib)

Situs web

Bottom of Form

  • FertobHades

Selamat datang di blog ini. Anda bisa mengetahui siapa saya dengan membaca [ini] dan [ini]. Blog anda mungkin tercantum [disini]. Atau di Google Reader pemilik blog. Untuk melihat seluruh tulisan, silakan lihat [disini].

Peringatan : Segala komentar berbau SARA, penghinaan, dan kata-kata yang tidak pantas akan dimutilasi agar tidak mengganggu kepentingan umum. Isi blog ini bisa dikutip selama mencantumkan sumbernya. Pemilik blog tidak bertanggung jawab atas segala akibat positif dan negatif yang ditimbulkan karena membaca blog ini termasuk bertambah pintar atau semakin bodoh.

  • Arsip

Pilih BulanJuli 2008Juni 2008Mei 2008April 2008Maret 2008Februari 2008Januari 2008Desember 2007Nopember 2007Oktober 2007September 2007Agustus 2007Juli 2007Juni 2007Mei 2007April 2007Maret 2007Februari 2007Januari 2007Desember 2006Nopember 2006Oktober 2006September 2006Agustus 2006Juli 2006

  • Kategori

Pilih KategoriBatakBlogBooksCurrent AffairsEconomyEducationEntertainmentFilm and MusicHistoryLiteraturePersonalPhilosophyPsychologyReligionSport

sudrun di “Atheisme” yang (T…
Raja Cilik di Film Porno dan “Par…
porker hands order di Yesus-Isa-Yeshua
afwan auliyar di Tipe-Tipe Mahasiswa Demon…
kecilmungil di “Atheisme” yang (T…
kecilmungil di “Atheisme” yang (T…
Verysatan di Tipe-Tipe Mahasiswa Demon…
Didi di Blog Lautan Porno
Pesan-Nya | Gunawan … di Natal dan Tewas
galeter di Tipe-Tipe Mahasiswa Demon…

  • Disini

Mask of Fertob

Blog pada WordPress.com. | Tema: Mistylook oleh Sadish

 





Hello world!

13 09 2008

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!